Apa kalian pernah merasakan kehilangan dan sakit hati?. aku yakin kalian pasti pernah merasakannya. dan saat ini mungkin itulah yang kurasakan. sebenarnya ini bukan hal yang baru bagiku. toh sebelum-sebelumnya aku pernah kehilangan dan merasakan sakit hati. tapi, entah mengapa aku merasakan ada sesuatu yang berbeda saat ini. rasanya semua ini terlalu menyakitkan. ok, mungkin aku terlalu lebay merasakannya. atau mungkin karena aku terlalu berharap tinggi dengan angan kosong belaka. ah, sungguh semua ini sangat menyebalkan bagiku. aku benci dengan diriku saat ini. seolah aku lupa diri. aku melupakan tujuan awalku. tuhan, aku kenapa? apa yang terjadi dengan diriku? mengapa aku jadi berubah? mengapa aku terlihat begitu rapuh dihadapannya?. GAK. aku gak boleh berlarut-larut dengan hal bodoh ini. bahkan tuhan pun sudah memberiku petunjuk di dalam tidurku tadi pagi. tuhan memperlihatkan kepadaku, bahwa bahkan dalam mimpiku pun dia tak mau memandangku. sudah saatnya aku harus berhenti. dan kembali ketujuan awalku. aku harus bangun dari mimpi bodohku ini.
Sabtu, 17 Januari 2015
Kamis, 15 Januari 2015
DAUN YANG JATUH
Kini ku berjalan bagai sebuah daun yang sedang terombang-ambing oleh angin yang menerpa. Ku terbang tanpa arah. Sesekali aku pun terjatuh, lalu diinjak oleh beberapa orang. Sungguh sangat menyebalkan. Aku hanya sebuah daun yang jatuh dari sebuah pohon. Lalu tertiup oleh angin. Terbawa terbang bersama beberapa daun lain yang gugur. Aku hanya sebuah daun kering yang jatuh, tak berarti dan tak memiliki nilain lagi. Aku bukan lagi sebuah daun di sebuah pohon yang besar. Aku tak lagi menjadi bagian dari pohon itu. Aku sudah terjatuh dan angin membawaku pergi, menjauh dari tempatku saat ini. Aku tak lagi sekokoh dan seindah dulu. Aku hanya menjadi daun kering tak berarti. Hanya bisa menatap pohon yang masih berdiri. Aku hanya sebuah daun yang jatuh, terbuang dan terbang bersama hembusan angin yang membawaku pergi.
Rabu, 14 Januari 2015
SKENARIO KEHIDUPAN
Mungkin ku berjalan terlalu
jauh
Hingga aku kehilangan tempat
tuk berlabuh
Mungkin ku berjalan dengan
terlalu angkuh
Hingga aku kehilangan
orang-orang yang selalu ku rengkuh
Mungkin ku berjalan tanpa
menoleh kanan kiriku
Hingga aku kehilangan raga yang
pernah menyanjungku
Mungkin inilah teguran
untukku
Agar ku kembali kejalanmu
Menjadi diriku yang dulu
Dimana tak ada perjalanan
yang melebihi batas kecepatan
Tak ada perjalanan yang tak
memandang kiri kanan
Inilah saatnya ku kembali
pada tujuan
Meneta skenario yang sempat
berantakan
Dengan segenap hati ku
gantungkan harapan
Padamu wahai sang pencipta
kehidupan
KAN KU BUAT KAU MENYESALINYA
Pernah kita lukiskan warna
bersama
Cerah ceria canda tawa
Lalui dalam jejak langkah
kita
Serta tangis air mata
Telah kita lewati bersama
Pernah kita menatap cahaya di
angkasa raya
Ciptakan sebuah angan dibatas
senja
Dengan beribu cerita yang
telah ada
Tersusun dalam buku agenda
Kini ku tau semua telah
musnah
Hilang dan tak tersisa
Tapi, kan kulalui angan yang
tak jadi nyata
Dengan langkah ringan dan
senyum sumringah
Lalu kan ku buat kau
terperangah melihatnya
Hingga ciptakan sesal di dada
Selasa, 13 Januari 2015
MANTAN TERBAIK
Dia ada di dalam gelap dan
terangku
Dia ada dalam setiap
langkahku
Menangkapku ketika kuterjatuh
Memberi tawa ketika ku
terluka
Dia ada meski jauh di mata
Selalu bertanya dan menyapa
Selalu menjaga hatinya
Menjaga kenangan kita berdua
Dia selalu berusaha
menorehkan cerita
Cerita yang sempat padam dan
menjadi hampa
Yang pernah kutinggalkan
begitu saja
Dia tak pernah membuatku
kecewa
Tapi, ku tak pernah berikan
apa-apa
Ku tak bisa cintainya sepenuh
jiwa raga
Ku tak bisa kembali menulis
cerita bersamanya
Maafkan ku selalu menorehkan
luka
Maaf ku hanya berimu duka
Maaf ku tak bisa memberimu
cinta
Seperti dahulu kala
Kau lah mantan terbaikku
Tapi aku, bukan terbaik
untukmu
Ku takkan bisa merajutnya
seperti dulu
Karena rasaku bukan lagi
untukmu
Cerita kita telah menjadi
buku
Yang tengah berjejer di rak
rumahku
Yang tak akan pernah ku buka
buku itu
Sekalipun kau memohon dan
berlutut padaku
CORETAN CERITA YANG TELAH USAI
Bersama hembusan nafas ini
Segalanya terkikis dari hati
Pelan-pelan tapi pasti
Dua kata terhapus sendiri
Bersama langkah kaki ini
Segala kenangan telah menepi
Semburat dari memori
Dan tak nampak lagi
Bersama pandangan dari mata
ini
Rembulan takkan nampak
menyinari
Relakannya tertutup gelap
dimalam hari
Bersama sepotong hati ini
Tinggalkan mimpi yang pernah
dilukis sendiri
Tingkalkan janji yang pernah
terikhrar suci
Tinggalkan jiwa yang sempat
dicintai
Bersama lembaran baru ini
Menutup coretan cerita yang
telah usai
SELALU MENCOBA
Ku lewati pagi, siang dan
malam hari
Berharap kan temukan satu
sinar yang pasti
Tapi, tak pernah kutemui
Ku coba berdiri dibukit
tertinggi
Berharap kan rasakan
hangatnya mentari
Tapi, sepi yang kurasai
Ku coba berlari
Dari takdir yang tengah
terjadi
Tapi, tak ada tempat tuk bisa
kusinggahi
Ku coba tuk sembunyi
Dari sosok yang slalu hadir
dalam mimpi
Tapi, bayangnya tetap
menghantui
Dan ku coba tuk tetap
berjalan sendiri
Seperti hari yang pernah
kulalui
Dimana sinar rembulan yang
hanya menyinari setengah hati
Lalu pergi tinggalkan bintang
seorang diri
RUNTUH
Lihatlah bangunan istana di
ufuk senja
Tengah runtuh begitu saja
Hancur lebur tak tersisa
Dan hanya jejak kaki yang
masih tertera
Masih trelihat jelas dimata
Kemegahannya diwaktu dulu
kala
Dengan ornamennya yang indah
Warnai gelapnya alam semesta
Dulu bangunan itu berkharisma
Menyimpan asa dua orang
manusia
Memberi kedamaian dalam hati
mereka
Melukiskan kisah diantara
mereka
Kini, semua telah melebur
Segalanya terlihat kabur
Dan kemegahan itu pun telah
hancur
KEKOSONGAN DILANGIT MALAM
Bentangan luas langit malam
Menjadi saksi api yang mulai
padam
Hingga dingin berjalan
perlahan
Menyapa batin yang terengkuh
keangkuhan
Bintang malam kini tiada
bersinar
Senyum rembulan pun memudar
Lihatlah kekosongan dilangit
malam ini
Sama persis dengan sepotong
hati sang dewi
Kosong momplong tiada
berpenghuni
Lihatlah hati sang dewi
Ditinggal ketika menjadi
kepingan berbiji-biji
Tidakkah kau sedikit peduli
Tuk memunguti kepingan hati
ini
Lalu kau simpan dan kau obati
Agar tetesan air mata, tak
meleleh melewati pipi
Cobalah mendengar alunan
syair sang dewi
Yang dia lantunkan tuk
menghibur diri
Mengisi ruang kosong dihati
Masih sudihkah kau tinggal
hari ini
Tuk mendengarkan syair sang
dewi
Agar kau dapat terilhami
Dan kembali dalam dekapan
sang dewi
LAMUNAN SENDU
Menatap mentari diatas langit
biru
Jauh bersinar diatas ku
Menembus batas angan dan
khayalku
Hingga tak mampu kugapai
dirimu
Dan hanya dapat menatap
sinarmu
Yang terasa
hangatkan tubuhku
Tanpa dapat mendekap ragamu
Karena ku kan terbakar apimu
Bila ku terbang menuju
persinggahanmu
Kini kutersadar dari lamunan
sendu
Jika hadirnya sinarmu
Hanya hangatkan dinginnya
tubuh
Tanpa mampu hancurkan es
dihati ku
Karena kebekuan hatiku
Dicairkan oleh rembulanku
TEKA-TEKI CINTA DI UJUNG LEMBAH
Diatas hamparan tanah lapang
Kutampakkan hati yang gersang
Dimana dulu terbakar dan
terbuang
Hingga diri kehilangan rasa
sayang
Tak dapat lagi rasakan hal
yang mendebarkan
Hanya kepulan asap kegelapan
Membelenggu dalam kehidupan
Hingga akhirnya diri berhenti
berjalan
Dan terdampar dilembah
peradaban
Tempat dimana terciptanya
pertemuan
Antara dua insan yang
kesepian
Yang sama-sama mencari cahaya
keindahan
Tuk melepaskan gelap disetiap
langkah perjalanan
Dan pertemuan diujung lembah
peradaban
Ciptakan rasa tak sewajarkan
Timbulkan pancaran cahaya
diseluruh lautan perpijakan
Dan diri pun diam merasakan
Sesuatu yang tak pernah
diramalkan
LETIH
Tubuh yang tak dapat lagi
berkompromi
Menyakiti diri yang sudah
letih
Organ-organ seakan
memberontak pasti
Saling menyakiti setiap hari
Sakit ini terasa lagi
Semakin lama semakin terasa
pedih
Menggrogotii seisi raga ini
Apa yang tengah terjadi?
Pada siapa diri mencari arti?
Atas perih dari sebuah duri
Tertanam indah melukai
Membuat juwa ikut menangisi
Merasakan hal yang paling
dibenci
Cukup berhentilah sampai
disini
Karena diri telah letih
TETESAN AIR HUJAN
Awan gelap berjalan perlahan
Diiringi tiupan angin kencang
Dan hujan pun turun tak
tertahankan
Menyirami seluruh jalan
Hawa panas perlahan hilang
Digantikan dinginnya tetesan
air hujan
Dan diri pun mulai kedinginan
Merasakan hadirnya dalam
kesunyian
Hujan diantara percikan
perasaan
Membawa diri semakin masuk
dalam bayang keindahan
Yang beberapa hari telah
merengkuh badan
Disini diri semakin rasakan
Luapan rasa tak
tertertahankan
Hay, lelaki yang jauh dari
pandangan
Dengarlah pesanku lewat
tetesan air hujan
MATI RASA
Tak lagi
dapat kurasakan
Sebuah
debaran akan perasaan
Hanya dingin
yang mendekap menenangkan
Dalam kegelapan
didekat jalan
Tiada lagi
kurasakan
Getaran jiwa
yang menggairahan
Hanya sunyi
yang menjadi kawan
Setia saat
dunia menertawakan
Telah lama
kurasakan kesendirian
Tenggelam
dalam dunia impian
Yang
membawaku kedalam sebuah angan
Tentang hal
bodoh yang selalu kubanggakan
Kini kumasih
sendirian
Berdiri
diantara keramaian perkotaan
Tanpa
secercah sinar rembulan
Ataupun
seorang kawan
BAYANGNYA YANG MEMUDAR
Ku terdiam
Menatap bayangnya yang
semakin memudar
Menjauh dari tempatku
berpijak
Menghilang bersama desiran
angin malam
Dan tenggelam dalam dekapan
sang rembulan
Disini kusendirian
Merasakan bagian tubuh tak
sewajarkan
Satu diantaranya telah hilang
Membuat kepekatan kembali
datang
Menyambutku dengan iringan
gendang
Tidakkah dia mendengar
Jerit tangis menggelegar
Mengisi suara soundtrack
dalam film kehidupan
Hay, lelakiku dalam impian
Lihatlah
hatiku yang telah kau hancurkanLIDAH PISAU
Dibawah terik sinar mentari
di pagi hari
Ku berdiri tegap bersiap tuk
disetrap
Dibawah sela-sela daun dari
berbagai jenis pohon
Ku diam diantara keheningan
Hanya suara-suara teriakan
Terdengar begitu nyaring dan
mengerikan
Sosok-sosok di depan mata
Membuat derita semakin
bertambah
Entah apalagi yang salah
Karena semua selalu dianggap
salah
Kaki pun mulai sakit
Hati juga berdarah karena
disabit
Oleh sebilah lidah pisau
Yang lumpuhkan seluruh jiwa
raga
Ah, ingin rasanya sosok itu
kuhancurkan saja
Dilenyapkan dari pandangan
mata
Namun, diri akhirnya sadar
juga
Jika mereka...
Hanya sedang laksanakan
tugasnya
SANG PUSAKA MERAH PUTIH
Sang pusaka merah putih
Berkibar indah di tiang yang
tegak berdiri
Dengan iringan lagu penuh
arti suci
Menggambarkan jejak para
pembela RI
Yang dulu pernah berkorban
tanpa pamrih
Demi merebut kembali tanah ini
Tak peduli raga kan mati
Karena jiwa kan slalu abadi
Dalam hati bergerak pasti
Menyaksikan merah putih
Berkibar diatas bumi pertiwi
Inilah sang pusaka pertiwi
Yang mestinya dijaga dari
ancaman para koloni
Yang kini masih bersembunyi
Berpura-pura jayakan tanah
air ini
Namun jauh didalam hati
Inginkan tanah tersubur di
bumi ini
Bukalah mata kalian hey
penguasa negeri
Janganlah kau makan daging
sendiri
Ingatlah para pembela yang
telah mati
Mereka titipkan bumi pertiwi
ini
Maka marilah semua menjaganya
dengan sepenuh hati
Langganan:
Postingan (Atom)
MERAGU
Dalam hidup ini, ada kalanya kau merasa seluruh dunia memusuhimu. karena satu kesalahan yang kau buat, berakibat besar dalam kehidupanmu. b...
-
Blog baruku ini berisikan tulisan-tulisan hasil karyaku sendiri. semoga kalian menyukai tulisan-tulisanku ini. :-) selamat membacanya :-) ...