Selasa, 13 Januari 2015

SINAR REMBULAN

Dimalam kehampaan dibawah sinar rembulan
Seorang pujangga terdiam sendirian
Merasakan angin yang menusuk badan
Merasakan kehampaan yang mencekam
Gelap gulita langit malam
Temani pujangga yang kesepian
Secercah sinar rembulan
Hanya mampu hiasi sepucuk dedaunan
Tanpa mampu hancurkan kegelapan
Pujangga kesepian ditengah malam
Tak lagi rasakan kasih sayang
Segala yang memujanya telah menghilang
Dan dia hanya seorang diri
Menatap indahnya sinar rembulan

REMBULANKU

Kutatap tampang di seberang sana
Tertawa bahagia tanpa ada lara
Menikmati tiap udara yang dihirupnya
Bersama dengan seorang wanitanya
Dia perlihatkan ketampanannya
Yang selalu dapat membius mata pujangga
Dia jauh disana
Diseberang tempatku berada
Sedang diriku disini, Terpaku menatapnya
Tanpa dapat menggapainya
Karena tangan ini terlalu pendek
Diri ini terlalu mungil baginya
Tak sebanding dengannya
Yang menguasai setiap inci dalam istana
Dialah sang raja
Pemikat hati kaum hawa
Sungguh beruntung wanita disampingnya
Dapat tertawa bersamanya
Memeluk erat tubuhnya
Memiliki seutuh hatinya
Dia memang istimewa
Dan begitu berkarisma
Dia tak pantas tuk dimiliki pujangga
Atau rakyat jelata lainnya
Karena dia bagai rembulan diangkasa raya

SAJAK SANG DEWI

Jemari tangan yang enggan berhenti
Menuliskan sajak-sajak curahan hati
Berharap kan ada yang mengerti
Setiap kata penuh arti
Tak lelah menuangkan isi nurani
Dalam karangan mungil sang putri
Terkemas indah nan rapi
Ribuan sajak berarti
Yang memiliki beribu arti tersembunyi
Ditujukan tuk introspeksi diri
Atau ironi bagi makhluk berkedok putih
Inilah ribuan sajak sang dewi
Disampaikan dari dalam hati
Untuk makhluk-makhluk di bumi
Inilah sajak sang dewi
Yang selalu terkenang hingga dia pergi

GERBANG KEHANCURAN

Ketika keadilan hanya nampak fana
Maka kebenaran tiada tercipta
Hanya ketidak benaran yang menjadi raja
Menguasai seisi istana
Pada siapa kita harus percaya
Jika tidak nampak nyata
Semua hanya fatamorgana
Nampak ada tapi hilang sekejap mata
Kini, gerbang kehancuran mulai terbuka
Manyambut meriah rakyat jelata
Rakyat yang dibutakan oleh sebuah citra
Lihatlah wahai rakyat jelata
Sebentar lagi para penguasa kan tertawa
Dan adikuasa kan bahagia
Lalu kita, hanya menatap dengan kerlingan air mata
Yang takkan dipandang oleh penguasa istana
Semua kan merasakan getahnya
Karena sebuah pohin kebenaran telah tumbang
Terbuang, terusir dari istana
Wahai sang mahakuasa
Lindungilah kami diantara para srigala

CATATAN USANG

Sebuah catatan yang telah usang
Kembali terpajang menampakkan batang
Jelas terlihat sebuah bayangan
Yang menjadi aktor di dalamnya
Membintangi film romansa
Beradu akting dengan sang gadis pujangga
Memerankan tokoh bagai pengeran dan putri raja
Diakhir cerita, keduanya terpisah
Terjebak dalam luka asmara
Sang gadislah penoreh lukanya
Meninggalkan sang aktor tanpa kata
Namun, sang aktor tak membalasnya
Malah mengulurkan tangan pada gadis pujangga
Membopong sang gadis penuh derita
Mengobati dengan beribu cinta
Dialah yang ada ketika hampa
Dialah yang menyapa
Ketika semua tak menyapa
Dia tak meninggalkan gadis pujangga
Dia juga tak menghina gadis pujangga
Tak seperti orang-orang disekitarnya
Yang dengan ringan menertawakannya
Karena dialah...
Sang gadis pujangga dapat tertawa

RASA ABADI

Diatas tanah kering ku berdiri
Menampakkan jemari kaki yang telah letih
Setelah lewati beribu kata berduri
Menerjang, menghujam bertubi-tubi
Dipinggir sungai berair jernih
Kutatap bayang yang berdiam diri
Tiada senyum hiasi
Muram mengelilingi
Dibawah langit putih
Kurasakan angin bertiup lirih
Menyapa diri, menemani diantara sepi
Didalam buntalan bumi
Beribu rasa enggan pergi
Mendiami hati, memebentuk memori
Yang tak tergerus oleh hari
Hingga menjadi lekang abadi

KEGADUHAN DI LUAR ISTANA

Badan terbaring di atas hamparan kapas yang terbungkus
Berharap mata kan terpejam
Namun, telinga menangkap gelombang suara
Terdengar riuh mengusik raga
Oh, sungguh memekakan panca indra
Menggganggu istirahat putri pujangga
Suara gaduh diluar istana
Memaksa putri membuka mata
Suara dari anak rakyat jelata
Memusingkan kepala

HARAPAN DI ATAS BUMI PERTIWI

Kala nurani ternoda
Kegelapan pun merajai
Jiwa ikut tak bersih
Tercemari polusi hati
Tercekik dan terlukai
Kala langkah tak terarah
Pontang-panting di atas awan resah
Melenggang seperti penjajah belanda
Ikut terjebak dalam permainan orang eropa
Monopoli perdagangan, imperialisme di laksanakan
Apa yang tengah terjadi di dalam diri bumi pertiwi?
Kala penguasa mengobral kata
Tercipta dusta di antara kebutaan mata
Serta setitik kebenaran di tengahnya
Racun nafas orang-orang berjaya
Menghitamkan bendera
Menggrogoti hak manusia
Manyayat harapan para keturunan adam dan hawa
Kala doa tiada tercipta
Hancur lebur seisi dunia
Matahari enggan bercahaya
Kesucian kepercayaan pun tinggal nama
Kala angan tercipta
Akankah bumi pertiwi dapat berjaya?
Seperti negara adidaya
Berkuasa di seluruh dunia
Semoga itu kan tercipta
Dan bukan sekedar sapaan di bawah langit jingga

Sisa Kenangan

Kala jiwa terhempas
Tenggelam dalam hati yang terkelupas
Teringat akan kisah yang telah kandas
Serta ikatan yang telah lepas
Kala diri diam membisu
Terlintas sesaat akan namamu
Yang sejujurnya telah lama kubunuh
Kala memori terbuka
Terasa pedih penuh luka
Segala kenangan pun kembali tercipta
Dalam kornea mata
Kala waktu tak dapat menghapusmu
Hatiku kembali rapuh
Terngiang kembali suaramu
Yang dulu sering bersenandung untukku
Namun kini, hanya bayangmu yang hiasi langkahku

UNTUK PARA MANTAN

Beberapa tampang telah terpampang
Kembali berucap sayang
Berharap kan dapat dipandang
Tapi, semua tlah melayang
Hati ini tlah dibuat gersang
Tak mau kembali terjebak di dalam jurang
Yang sungguh remukkan badan
Dan selalu membekas dalam ingatan
Tidakkah kalian ingat hay para mantan
Segala puja pujimu hanya untaian kenangan
Tak perlu lagi coba cari peluang
Karena diri tlah letih memandang
Menatap orang-orang yang dulu menyayang
Dan tinggalkan diri bagai seorang yang jalang
Kini kalian pasang raut muka menyedihkan
Berharap dapat belas kasihan
Atau merajut kembali sebuah jalinan
Tapi, ku hanya kan teriakkan....
Pada kalian para mantan
Jangan coba kembali dan hancurkan
Kepingan perasaan yang terbuang

Orang asing

Kutatap sebuah wajah
Nampak asing dimata
Terlihat berdiri di sebrang sana
Sedang menatapku jua
Dalam hatiku bicara
Siapakah dia?
Si manis berkulit hitam
Rupamu menarik batinku
Membuat pertanyaan dalam otakku
Seolah kuharus mencari jawaban atas itu
Di bawah hamparan langit malam
Dia masih menatapku dalam
Serasa desiran angin menyapa badan
Menghipnotis fikiran
Mencari sebuah jawaban
Yang tercipta dari seorang rupawan
Hati pun masih menerka
Mencari sebuah nama
Yang mungkin pantas untuknya
Orang asing di malam gulita
Berdiri dibawah lentera
Kau memang membuat terpana

LILIN-LILIN KECIL

Cahaya kecil mungil
Bersinar dalam kegelapan
Temani jiwa yang kesepian
Nampak jelas tergambarkan
Dalam indra pengelihatan
Cahaya kecil dari sebuah lilin
Bersinar merangkai keindahan
Lilin-lilin kecil
Terangi seorang gadis mungil
Yang sendiri tak berkawan
Dan larut dalam kesedihan
Lilin kecil dengan cahaya mungil
Terdengar mulai memanggil
Menyapa gadis mungil
Yang sendiri sejak kecil
Lilin kecil bersama sinarnya
Membuat cerita dalam gelap gulita
Mengisi hati gadis mungil jelita
Yang kosong tiada rasa
Lilin kecil dikala senja
Bersinar dengan indahnya
Melukiskan sebuah kisah
Yang tercipta untuk si mungil jelita

MEGA HITAM

Tak lagi bisa kubedakan
Hitam putih tlah tersamarkan
Pucat pasih paras tergambarkan
Terpampang dibawah sinar rembulan
Membeku merasakan
Desiran angin, lalu lalang menerpa badan
Kaki tiada beranjak pergi
Terpaku di lilit mega hitam
Tiada daya tuk lepaskan
Belenggu tlah terpatri permanen
Mendekap daku,
Memusingkanku
Mata angin pun tiada menuntunku
Lakuku bagai si buta dari gua hantu
Dalam gelap harus terus melaju
Berusaha temukan cahaya biru
Meski mega hitam terus selimutiku
Tak kan bisa hentikan lakuku
Demi sebuah kepercayaan

Daku rela menitih jalan tanpa cahaya terang

DAWAI CINTAMU

Terdengar indah di telinga
Petikan dawai cintamu
Mengalun melewati beberapa benua
Menyebrangi beberapa samudra
Bagai sebuah merpati
Yang terbang tinggi
Dengan gigih terus melintasi
Beribu-ribu kilo kan dilalui
Alunan dawai cintamu
Telah memikatku
Tulikan telingaku
Butakan mataku
Lumpuhkan organku
Hempaskan jiwaku
Karena dalam otakku
Hanya terprogram tentangmu
Tak ada data selain dirimu
Tiada yang bisa memformatmu
Karena engkau baka...
Dalam fikiran, hati dan hidupku

CERITA PALSU

Beberapa orang sedang berkumpul
Berbisik-bisik membicarakkan sesuatu
Seolah tiada yang boleh tau
Tentang obralan dari mulut tak bisu
Nampak bibir mereka saling berpadu
Bersaut-sautan membentuk cerita palsu
Tidakkah mereka tau...
Tentang hukum agama yang berlaku
Mungkin fikiran sudah buntu
Tak peduli pada setiap laku
Yang menuntun menuju dunia keruh
Itukah mulut makhluk dunia?
Bisanya Cuma menyebar fitnah
Sadarlah wahai manusia
Dunia hanya sekejap mata
Nikmati hidup untuk cinta
Dan jangan bicara yang bukan fakta

BONEKA

Waktu tlah berlalu
Meninggalkan coretan di sebuah batu
Seperti prasasti di masa lalu
Menceritakan satu kisah pilu
Tentang seorang pujangga
Terlena karena cinta
Pujangga wanita cantik jelita
Terbuai manisnya lidah sang durjana
Hati lembutnya pun ternoda
Akibat termakan jebakan lelaki durjana
Dia permainkan pujangga bagai boneka
Membelai dan menciuminya
Namun, ditangan satunya
Dia memegang boneka lainnya
Setelah bosan memainkan boneka pujangga
Dia buang begitu saja
Tiada kerlingan air mata
Atau duka dalam hatinya
Kini pujangga tlah mengetahui semuanya
Tentang permainan busuknya
Tentang obralan kata dari mulutnya
Sayatan tajam yang di torehkannya
Menganga memerah
Meninggalkan bekas luka
Kini lihatlah dia
Tertawa bersama boneka barunya
Dan pujangga jelita
Hanya diam tak mau berkata

HARAPAN FANA

Ku lihat bulan dan bintang
Berpadu menyinari malam
Sedang sang mentari
Bersinar di sisimu
Malamku disini
Siangmu disana
Mungkinkah raga kan bersua bersama
Ketika suara pun tak sampai di telinga
Siapa yang dapat mendengarnya
Sebuah jeritan sang pujangga
Tentang harapan yang selalu nampak fana
Sebuah harapan pada sang raja
Yang tak pernah nyata
Hanya ada dalam mimpi dan angan belaka
Belaian yang terasa
Ternyata sebuah ilusi semata
Hasrat suci tak ternoda
Tiada menjamin kan tercipta
Hanya angin malam yang terasa
Menerpa setiap manusia
Di malam ini ku bercerita
Tentang harapan pujangga
Pada sang raja

MERAGU

 Dalam hidup ini, ada kalanya kau merasa seluruh dunia memusuhimu. karena satu kesalahan yang kau buat, berakibat besar dalam kehidupanmu. b...