Melupakan seseorang atau suatu
kenangan di dalam hidup kita memanglah tidak mudah. Semakin kita berusaha untuk
menghilangkannya, semakin tampak nyata. Hadir dan terus menghantui
dalam setiap langkah kita. Memang rasanya berat sekali ketika kita harus
menerima kenyataan tentang sebuah kenangan menyakitkan atau menggembirakan yang
pernah dilukis oleh seseorang yang pernah menempati sudut hati terdalam. Tapi,
inilah hidup. Kita harus belajar mengikhlaskan segala yang telah terjadi. Aku tau
bagaimana dikecewakan oleh sebuah perasaan yang dulu sempat membara begitu
panasnya. Dan rasa itu harus terhempas dalam hitungan beberapa minggu. Awalnya aku
begitu sakit hati, marah dan kecewa semua menjadi satu. Aku kesal dengan diriku
sendiri, mengapa aku harus membiarkan rasa itu berkembang terlalu jauh. Hingga memperbolehkannya
masuk kedalam kehidupanku lalu mengukir beberapa kenangan indah yang tertanam
dalam memoriku. Dan dia berhasil menghancurkannya dalam sekejab. Tidak. Ini bukan
hanya salahnya sepihak. Mungkin aku juga salah. Karena terlalu mengikuti
perasaanku. Perasaan ingin disanjung setiap hari. Padahal ku tau dia bukanlah
tipe lelaki yang pandai berkata-kata manis. Dia adalah sosok yang misterius. Tenggelam
dalam pikirannya sendiri. Terlalu sibuk dengan kehidupan dan hatinya sendiri. Awalnya
ku kira aku telah benar-benar menyentuh dasar hatinya. Memasuki dunia ajaibnya.
Tapi ternyata, aku salah. Aku hanya menyentuh sepucuk hatinya. Dan berada di
depan pintu kehidupannya. Aku tak bisa masuk kedalamnya. Karena aku tak
memiliki kunci tuk membukanya. Hari-hari berlalu. Dan dengan iringan jam yang
berdetak setiap detiknya, aku baru menyadari sesuatu hal yang amat menghujam
jantungku. Tepat ketika mentari diatas kepalaku, tuhan memperlihatkan kenyataan
yang menghancurkan seluruh anganku. Aku baru tersadar dari mimpiku. Bahwa ternyata
di dalam hatinya masih ada wanita lain selain diriku. Aku marah, kecewa. Ingin rasanya
ku teteskan air mata di hadapannya. Tapi, aku keburu kesal. Hingga hanya
berucap beberapa kali. Lalu diam. Dia pun diam. Tanpa berkomentar. Atau berniat
memberi penjelasan kepadaku.
Saat itu aku mengutuk diriku sendiri. Kenapa
aku harus membukakan pintu hatiku yang telah terkunci selama hampir dua tahun
ini. Kenapa harus ku bukakan pintu itu untuknya. Harusnya aku tetap menutupnya.
Tapi, semua sudah terjadi. Apa yang harus ku sesali. Toh segalanya tak akan
pernah kembali. Tepat sehari sebelum perayaan sebulan kita bersama, akhirnya
kita benar-benar berpisah. Dia pergi meninggalkanku. Dan sejak saat itu,
rasanya aku begitu tak menentu. Semua hal yang pernah terjadi dalam hidupku
kini kembali membayangi. Ku lalui hari-hari dengan perasaan yang amat ku benci.
Aku sangat sulit tuk melupakannya. Mungkin butuh waktu tuk terbiasa dengan
kesendirian ini lagi. Dulu dengan orang brengsek yang pernah mengukir kenangan
dalam hidupku juga, aku membutuhkan waktu setahun lebih untuk menyembuhkan
hatiku dan membiasakan hatiku tanpanya. Apa mungkin aku juga memerlukan waktu
selama itu untuk melupakannya? Atau malah lebih lama lagi? Ah, entahlah. Hari ini
tepat sebulan kita berpisah. Dan sepertinya, perlahan hatiku sudah mulai
terbiasa tanpanya. Mungkin sudah merelakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar