Senin, 19 Januari 2015

MENGHAPUS KENANGAN

          Melupakan seseorang atau suatu kenangan di dalam hidup kita memanglah tidak mudah. Semakin kita berusaha untuk menghilangkannya, semakin tampak nyata. Hadir dan terus menghantui dalam setiap langkah kita. Memang rasanya berat sekali ketika kita harus menerima kenyataan tentang sebuah kenangan menyakitkan atau menggembirakan yang pernah dilukis oleh seseorang yang pernah menempati sudut hati terdalam. Tapi, inilah hidup. Kita harus belajar mengikhlaskan segala yang telah terjadi. Aku tau bagaimana dikecewakan oleh sebuah perasaan yang dulu sempat membara begitu panasnya. Dan rasa itu harus terhempas dalam hitungan beberapa minggu. Awalnya aku begitu sakit hati, marah dan kecewa semua menjadi satu. Aku kesal dengan diriku sendiri, mengapa aku harus membiarkan rasa itu berkembang terlalu jauh. Hingga memperbolehkannya masuk kedalam kehidupanku lalu mengukir beberapa kenangan indah yang tertanam dalam memoriku. Dan dia berhasil menghancurkannya dalam sekejab. Tidak. Ini bukan hanya salahnya sepihak. Mungkin aku juga salah. Karena terlalu mengikuti perasaanku. Perasaan ingin disanjung setiap hari. Padahal ku tau dia bukanlah tipe lelaki yang pandai berkata-kata manis. Dia adalah sosok yang misterius. Tenggelam dalam pikirannya sendiri. Terlalu sibuk dengan kehidupan dan hatinya sendiri. Awalnya ku kira aku telah benar-benar menyentuh dasar hatinya. Memasuki dunia ajaibnya. Tapi ternyata, aku salah. Aku hanya menyentuh sepucuk hatinya. Dan berada di depan pintu kehidupannya. Aku tak bisa masuk kedalamnya. Karena aku tak memiliki kunci tuk membukanya. Hari-hari berlalu. Dan dengan iringan jam yang berdetak setiap detiknya, aku baru menyadari sesuatu hal yang amat menghujam jantungku. Tepat ketika mentari diatas kepalaku, tuhan memperlihatkan kenyataan yang menghancurkan seluruh anganku. Aku baru tersadar dari mimpiku. Bahwa ternyata di dalam hatinya masih ada wanita lain selain diriku. Aku marah, kecewa. Ingin rasanya ku teteskan air mata di hadapannya. Tapi, aku keburu kesal. Hingga hanya berucap beberapa kali. Lalu diam. Dia pun diam. Tanpa berkomentar. Atau berniat memberi penjelasan kepadaku.
          Saat itu aku mengutuk diriku sendiri. Kenapa aku harus membukakan pintu hatiku yang telah terkunci selama hampir dua tahun ini. Kenapa harus ku bukakan pintu itu untuknya. Harusnya aku tetap menutupnya. Tapi, semua sudah terjadi. Apa yang harus ku sesali. Toh segalanya tak akan pernah kembali. Tepat sehari sebelum perayaan sebulan kita bersama, akhirnya kita benar-benar berpisah. Dia pergi meninggalkanku. Dan sejak saat itu, rasanya aku begitu tak menentu. Semua hal yang pernah terjadi dalam hidupku kini kembali membayangi. Ku lalui hari-hari dengan perasaan yang amat ku benci. Aku sangat sulit tuk melupakannya. Mungkin butuh waktu tuk terbiasa dengan kesendirian ini lagi. Dulu dengan orang brengsek yang pernah mengukir kenangan dalam hidupku juga, aku membutuhkan waktu setahun lebih untuk menyembuhkan hatiku dan membiasakan hatiku tanpanya. Apa mungkin aku juga memerlukan waktu selama itu untuk melupakannya? Atau malah lebih lama lagi? Ah, entahlah. Hari ini tepat sebulan kita berpisah. Dan sepertinya, perlahan hatiku sudah mulai terbiasa tanpanya. Mungkin sudah merelakannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MERAGU

 Dalam hidup ini, ada kalanya kau merasa seluruh dunia memusuhimu. karena satu kesalahan yang kau buat, berakibat besar dalam kehidupanmu. b...